Pertempuran 4 Hari di Kota Solo

Maret 16, 2010

Pertempuran 4 Hari di Kota Solo

Tepatnya bulan Agustus 1949 terjadi “Serangan Oemoem” atau Pertempuran Empat Hari di Kota Solo, sebenarnya pertempuran itu terjadi mulai tanggal 7 Agustus 1949 sampai dengan 11 Agustus 1949, atau lima hari perang terhadap Belanda. Serangan ini merupakan serangan yang ketiga kalinya dilakukan oleh para pejuang kita saat itu. Serangan I dilakukan terhadap Belanda di Kota Solo pada tanggal 8 Pebruari 1949 dan serangan ke II dilakukan pada tanggal 2 Mei 1949.

Pada saat terjadinya pertempuran ini, banyak rakyat yang menjadi korban, dimana pada hari pertama kampung-kampung di pinggiran kota ditembaki Belanda dengan kanon dan mortar. Belanda juga menyerang dari udara dengan 4 pesawat terbang membom kampong Manahan dan Laweyan. Pada hari kedua, dengan 4 pesawat membom kampung Kandangsapi dan kampung Serengan dibombardir Belanda secara membabi buta, bahkan rumah-rumah yang berdekatan dengan markas Belanda banyak yang dibakar. Menurut salah satu pelaku dari peristiwa itu menyatakan suasananya pada saat itu sangat mencekam karena banyak isak tangis disana-sini. Namun menurut mereka, serangan ini sangat berhasil, hal ini dibuktikan bahwa seluruh daerah kota talah berhasil dikuasai oleh para pejuang.

“Gugur Satu Tumbuh Seribu”. Demikian semboyan para pelaku sejarah waktu itu. Meskipun banyak rekan yang gugur, semangat juangnya tidak pernah luntur untuk mengusir Belanda dari muka bumi Indonesia, khususnya yang ada di Kota Solo.

Akhir pertempuran

Pada tanggal 11 Agustus 1949 terjadi perundingan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Pihak Belanda diwakili oleh Letkol Van Ohl dan pihak Indonesia diwakili oleh Letkol Slamet Riyadi. Adapun isi berjanjiannya adalah sebagai berikut : 1). Untuk mengurangi terjadinya perselisihan, pihak Belanda meminta agar TNI ditarik mundur ke tepi batas kota dan rintangan-rintangan jalan disingkirkan. 2). Pihak Belanda berjanji teror Belanda tak akan berulang dan tak akan diadakan pembalasan terhadap rakyat yang membantu TNI.


Sejarah Solo

Maret 16, 2010

Sejarah mencatat, Kerajaan Kartasura tumbang pada 30 Juni 1742 akibat kerusuhan yang dilakukan masyarakat China.

Kemelut yang mengarah pada situasi chaos, kemudian dikenal sebagai peristiwa Geger Pacinan itu bukan saja merupakan reaksi perlawanan terhadap peristiwaholocaust atas etnik China di Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda.

Melainkan tak lepas dari gerakan sementara elite bangsawan dalam usaha merebut kekuasaan keraton, sehingga memaksa Paku Boewono (PB) II selaku Raja Kartasura, meninggalkan istana mengungsi ke Ponorogo selama setengah tahun.

Atas bantuan militer Belanda serta dukungan kekuatan beberapa adipati bang wetanatau wilayah timur, termasuk Madura, pemberontakan dipadamkan. Akhirnya, 20 Desember 1742, PB II bisa kembali berkuasa di Kartasura.

Namun, perang di mana pun selalu menimbulkan kerugian besar. Banyak bangunan keraton beserta infrastrukturnya hancur. Pelaksanaan pemerintahan macet. Rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap penguasa.

Sebagai sebuah negara, Kartasura benar-benar berada di ambang keruntuhan. Untuk menghindari, tak ada pilihan lain bagi PB II kecuali merelokasi ibu kota kerajaannya.

Singkatnya, setelah melalui berbagai pertimbangan serta petung (perhitungan yang cenderung didasarkan pada faktor metafisis), Desa Sala sebuah wilayah perdikan berawa-rawa, terpilih dari empat nominasi calon lokasi sebagai tempat pendirian keraton pengganti Kartasura.

Mengerahkan para arsitek pribumi pada 1670 atau 1745 M, pembangunan keraton dirampungkan dengan ditandai oleh candrasengkala Sirnaning Resi Rasa Tunggal.

Tanggal 14 Sura (17 Februari) tahun itu pula, diselenggarakan boyong kedhatondari Kartasura ke Sala. Oleh PB II, istana baru tersebut ditahbiskan menjadi Keraton Surakarta Hadiningrat.

Sejak itu, Desa Sala berubah status dari perdikan menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan besar yang mempunyai wilayah kekuasaan meliputi hampir seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, Semarang, serta beberapa daerah pesisir utara mulai Pati, Lasem, Tuban, Gresik, hingga Blambangan.

Berpijak pada toponimi yang masih dikenali hingga sekarang, pertumbuhan permukiman penduduk khususnya di Kutagara atau ibu kota kerajaan pada masa kekuasaan raja-raja Keraton Surakarta, yang kemudian dipengaruhi Pura Kadipaten Mangkunegaran, cenderung mengikuti dua pola baku.

Pertama, dipengaruhi domisili elite bangsawan sebagai inti, dan kedua, berdasarkan pembagian kerja atau profesi. Itu antara lain terlihat pada banyak nama kampungyang diambilkan dari nama pangeran, pejabat tinggi istana, serta mata pencaharian masyarakat lokal.

Kawasan tempat Pangeran Mangkubumi tinggal misalnya, dikenal sebagaiKampung Mangkubumen. Rumah patih disebut Kepatihan. Begitu pula yang kini dikenal sebagai Kelurahan Sewu, Bumi, dan Penumping, pada awalnya adalah rumah abdi dalem Bupati Nayaka Sewu, Bupati Nayaka Bumi, dan Bupati Tamping.

Sementara itu, permukiman yang tumbuh berdasarkan mata pencaharian atau keahlian, contohnya Kampung Sayangan. Nama itu berasal dari abdi dalem golongan sayang, atau ahli membuat peralatan dapur dari tembaga.

Para perajin kuningan yang disebut tukang gemblak, terkonsentrasi di KampungGemblegan. Permukiman para sereng, yakni mereka yang ahli di bidang seni tatah sungging, berada di Kampung Serengan. Komunitas pembuat ukiran padawarangka keris atau salembar, berkembang menjadi Kampung Selembaran.

Sulit Dipertahankan

Agar memudahkan kontrol atas penduduk nonpribumi oleh keraton, mereka dikelompokkan dalam areal permukiman tersendiri sesuai etnisnya. Golongan China diberi tempat di sekitar Pasar Gede. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Pecinan. Urusan administrasinya ditangani oleh Babah Mayor, seorang China yang mendapat pangkat mayor dari keraton.

Seorang warga Arab, yakni Kanjeng Kyai Syarief, guru mengaji PB II, memperoleh hadiah tanah dari raja di sebelah timur keraton yang kemudian dikenal dengan nama Pasar Kliwon. Kampung itu akhirnya berkembang menjadi permukiman bangsa Arab. Untuk mengurus komunitas tersebut, keraton mengangkat salah seorang dari mereka dengan pangkat kapten.

Khusus warga Belanda tinggal di sebelah timur Beteng Vastenburg. Orang Jawa menyebut rumah Belanda sebagai loji, sehingga kawasan permukiman bangsa itu kemudian dinamakan Loji Wetan (timur).

Dalam proses perkembangan selanjutnya, konsep permukiman homogen semacam itu sulit dipertahankan. Pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, perubahan situasi politik nasional, khususnya sejak keraton kehilangan kekuasaannya, pertambahan jumlah penduduk, dan peningkatan arus urbanisasi dari daerah sekitar Solo, merupakan empat di antara beberapa faktor penyebab.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat terjadi sekitar tahun 1985, selama hampir dua dasawarsa. Selama waktu tersebut, sektor industri, jasa, perdagangan, serta perbankan tumbuh pesat. Namun di sisi lain, pembangunan sebagai bagian dari proses modernisasi ternyata juga mengandung kelemahan.

Di Solo misalnya, sebagian besar bangunan kuno dan bersejarah, terutama yang terletak di daerah strategis beralih fungsi menjadi pusat pertokoan, swalayan, mal, hotel dan sejenisnya.

Pembangunan yang terpusat di suatu wilayah juga mengundang gelombang kedatangan kaum urban. Jumlah pendatang pencari kerja di Solo sekarang diperkirakan sekitar 600 ribu orang atau menyamai jumlah penduduk asli.

Itu sekaligus jawaban atas persoalan makin merebak permukiman kumuh di Solo. Perkampungan yang semula berciri homogen, mulai berubah menjadi heterogen. Pembagian wilayah yang awalnya sesuai dengan peruntukannya pun gagal direalisasi.

Batas antara daerah industri, pendidikan, permukiman, perkantoran, pertanian, jasa dan perdagangan, serta lain-lainnya menjadi tumpang tindih. Bisa dimengerti jika kemudian sering muncul ketegangan yang dilatarbelakangi oleh antarkepentingan serta kesenjangan sosial.

Pemkot Solo bukan tidak menyadari masalah tersebut. Persoalan utamanya adalah keterbatasan wilayah. Wajar kalau tahun 1970-an muncul wacana pengembangan wilayah kota yang kemudian dituangkan dalam Rencana Induk Kota Kotamadya Surakarta 1973-1993.

Luas administratif Kota Solo berdasarkan data tahun 1973 hanya 4.345 ha. Berdasarkan perhitungan planologis menggunakan standar perencanaan dan asumsi-asumsi tertentu, kebutuhan luas built up Kodya Surakarta pada tahun 1993 sekitar 6.438 ha.

Artinya, selama 20 tahun dibutuhkan tambahan 2.093 ha. Daerah perluasan direncanakan mengambil sebagian dari wilayah kabupaten yang berbatasan.

Namun sebagaimana sudah diduga, rencana pengembangan kota tersebut gagal direalisasi karena memperoleh reaksi keras dari kabupaten-kabupaten tetangga pemilik wilayah.

Akibat yang tampak adalah pertumbuhan tata fisik kota tak berhasil mencapai standar normatif, dalam arti mampu memenuhi peningkatan hidup dan kehidupan penduduknya.

Dampak lainnya adalah proses pembangunan berlangsung dalam situasi sangat ketat. Konsekuensinya, biaya investasi pembangunan menjadi sangat mahal.

Persoalan itu perlu disikapi ekstrahati-hati. Kalau tidak, bukan mustahil Solo yang dikenal sebagai daerah bersumbu pendek akan makin eksplosif.

Salah satu solusinya, mengingat perluasan wilayah yang tak memungkinkan, pembangunan Kota Solo lebih diarahkan ke wilayah kosong atau kurang produktif, serta yang lambat perkembangannya, yakni daerah-daerah yang masih bersifat rural atau semiurban.

Kebijakan lain yang bisa ditempuh adalah menjalin hubungan lebih akrab dengan kabupaten tetangga, misalnya, memberi kesempatan kabupaten tersebut ikut melaksanakan bagian dari master plan Solo. Tentu dengan prinsip saling menguntungkan


Menghibur, Sekaligus Melestarikan Budaya

Januari 18, 2010

Hujan yang mengguyur Serengan seharian, tak menyurutkan semangat panitia dalam menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Warga sangat antusias menyaksikan kesenian tradisional yang disuguhkan oleh Sanggar Pedalangan Serengan. Baca entri selengkapnya »


Wajah Kelurahan Serengan Sekarang

Januari 9, 2010


Letusan Islandia Bisa Sebabkan Malapetaka Global

April 19, 2010

Kalau dulu pernah terjadi letusan gunung tambora yang menyebabkan bencana global dan perubahan iklim dunia…sekarang terjadi lagi letusan gunung yang dikawatirkan memicu bencana global. Gunung berapi di Islandia yang sudah ratusan tahun nggak aktif ini…tiba-tiba meletus dan mengeluarkan lava panasnya. Lebih lanjut mengenai ini…simak artikel berikut:

Lava yang keluar dari gunung di Islandia pada Senin menimbulkan kekhawatiran. Letusan pada 1783 membebaskan gas dan menimbulkan malapetaka besar hingga ke Inggris.

Ledakan itu dikekhawatiran menimbulkan letusan yang lebih besar di gunung berapi Katla.

Para ilmuwan mengatakan sejarah telah membuktikan ketika gunung berapi Eyjafjallajökull meletus, Katla mengikuti dan satu-satunya pertanyaan adalah kapan.

Karena Katla terletak di bawah gunung es Myrdalsjokull yang sangat besar, maka bisa menimbulkan ancaman bencana banjir besar saat ledakan itu terjadi.

Letusan pada Sabtu (20/3) di Eyjafjallajökull yang tidak aktif selama hampir 200 tahun, memaksa setidaknya 500 orang untuk mengungsi.

Sebagian besar telah kembali ke rumah mereka, tetapi pihak berwenang sedang menunggu penilaian ilmiah untuk menentukan apakah mereka aman untuk tinggal.

Islandia berada di titik gunung berapi besar di pertengahan jalur Atlantik. Letusan, Islandia sering terjadi dalam sepanjang sejarah, seringkali dipicu oleh kegiatan seismik ketika lempeng bumi bergerak dan ketika magma dari bawah tanah mendorong ke permukaan.

Seperti gempa bumi, memperkirakan waktu letusan gunung berapi adalah ilmu yang tidak pasti. Tapi letusan gunung berapi di Katla bisa menjadi bencana, baik untuk Islandia dan negara-negara lain.

Letusan gunung berapi Laki di Islandia pada tahun 1783 membebaskan gas yang berubah menjadi kabut asap. Asap mengambang di wilayah Jet Stream dan mengubah pola cuaca.

Banyak yang mati keracunan gas di Kepulauan Inggris. Produksi tanaman turun di Eropa Barat. Kelaparan menyebar.

Beberapa bahkan mengaitkan letusan yang menyebabkan kelaparan dengan Revolusi Prancis. Pelukis pada abad 18 menggambarkan hal itu dalam karya-karya mereka.

Musim dingin tahun 1784 juga salah satu terpanjang dan terdingin dalam catatan di Amerika Utara. New England melaporkan rekor suhu di bawah nol terlama dan New Jersey melaporkan rekor akumulasi salju. Sungai Mississippi juga dilaporkan membeku di New Orleans.

“Ini mirip skenario Hollywood tapi bisa terjadi,” kata Colin Macpherson, seorang ahli geologi di University of Durham. “Saat lelehan naik, itu seperti mengambil gabus keluar dari botol sampanye.”


Abu gunung Islandia ganggu penerbangan

April 19, 2010

Jangkauan abu gunung berapi Islandia

Penerbangan di Eropa Utara terganggu akibat abu gunung berapi Islandia yang menyebar.

Pihak berwenang penerbangan di Inggris dan Denmark menutup wilayah udara masing-masing, sementara penerbangan di Norwegia, Swedia dan Finlandia terganggu.

Abu, yang bisa merusak mesin pesawat, ini merupakan dampak dari letusan gunung berapi di bawah gunung es di Islandia.

Banjir akibat gunung es meleleh pun dilaporkan dan pada hari Rabu hingga 800 orang diungsikan dari wilayah itu.

Para saksi mata dan pejabat setempat mengatakan terdapat dua aliran air banjir yang keluar dari gunung es di sebelah barat daya, dan satu jalan di sepanjang sungai Markarfljot yang meluap pun terputus di beberapa lokasi.

Pada hari Kamis pagi, gangguan bencana ini terhadap lalu lintas udara melanda wilayah dari Inggris hingga Skandinavia.

‘Banjir besar’

Bandar udara Oslo, yang terbesar di Norwegia, ditutup sementara badan bandara Finlandia, Finavia, mengatakan lalu lintas udara ke Swedia Utara dan Finlandia Utara juga terkena dampak abu ini

Abu gunung berapi Islandia

Di Denmark, para pejabat mengatakan wilayah udara akan ditutup mulai pukul 1600 GMT.

Dinas Pengendali Lalu Lintas Udara Inggris, NATS, mengatakan pesawat dilarang masuk dan keluar wilayah udara Inggris mulai pukul 1100 hingga 1700 GMT karena khawatir akan kerusakan mesin akibat abu gunung berapi itu.

Di Skotlandia, bandar udara telah ditutup sejak pagi hari dan sejumlah penerbangan di beberapa bandara Inggris juga dibatalkan.

Ledakan gunung berapi di glasier Eyjafjallajoekull terjadi tanggal 20 Maret -yang pertama sejak tahun 1821- dan 500 orang terpaksa diungsikan dari rumah mereka.

Islandia terletak di daerah tekanan rendah Mid-Atlantik, daerah perbatasan antara benua Eropa dan piringan wilayah Amerika Utara yang sangat tidak stabil.


Gunung Es Raksasa Bergerak Menuju Australia

April 19, 2010

Gunung es raksasa yang diberi nama B17B bergerak 1.000 mil di pantai barat Australia. Gunung es terlihat di lepas pantai Pulau Macquarie, sebelah tenggara Australia.  Sebuah gunung es raksasa berukuran panjang 12 mil (19,31 Kilometer/KM) dan lebar lima mil (8 KM) ditemukan terapung di perairan dekat daratan Australia. Ukuran permukaan gunung es raksasa mencapai 87 mil persegi (140 km2). Divisi Riset Antartika Australia (ADD) menyatakan gunung es raksasa yang diberi nama B17B bergerak 1.000 mil di pantai barat Australia dan bergerak perlahan ke utara akibat terdorong arus laut dan angin. Gambar gunung es tertangkap kamera Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan Badan Ruang Angkasa Eropa. Pakar Glasiologi ADD Neal Young mengatakan gunung es raksasa ini bisa saja mencapai perairan Australia. Tabrakan bisa menyebabkan guncangan sebesar 3-4 tremor. Tetapi dia memperkirakan gunung es raksasa tidak akan mencapai daratan. Sebab, jika terus bergerak ke utara, gunung es raksasa akan pecah menjadi ratusan gunung es berukuran kecil. “Suhu air sedang hangat dan gunung es akan mengecil dan tidak akan mencapai Australia. Gunung es ini akan bergerak ke utara dan pecah,” kata Young seperti dikutip laman Telegraph. Menurut Young gunung es raksasa seukuran B17B tidak terlihat lagi sejak abad 19 sejak terbukanya jalur perdagangan antara Australia dan Inggris. “Ada gunung es yang berukuran sangat besar, tetapi hanya sedikit sekali yang bisa kita saksikan seperti yang sekarang ini,” katanya. Gunung es raksasa, ujar Young, berasal dari pecahan daratan es Ross di Antartika kutub selatan pada 2000 dan bergerak ribuan kilometer menjauhi Antartika. Sebelum bergerak ke Australia, gunung es sempat berhenti pada satu titik sebelum bergerak dengan bantuan arus laut dan angin. Beberapa minggu lalu, beberapa gunung es raksasa mendekati perairan di dekat pulau Macquarie Australia, tetapi tidak ada yang sebesar gunung es ini.


Solo Mio

Maret 10, 2010

Solo Mio terletak di pusat kota terletak di jalan utama Solo, Jl. Brigjen Slamet Riyadi 253 Solo Kota/Laweyan didepan Hotel Novotel, terdapat ATM BCA. Dengan nuansa khas Eropa, merupakan perpaduan resto dengan cafe, suasana di dalam ruangan sangat nyaman, diiringi dengan musik slow. Tempat parkir agak sulit karena harus menyeberang jalan raya. – Jika anda ingin mencoba cafe yang lebih besar bisa datang di Diamond Cafe, cukup ke arah barat tidak jauh dari tempat ini. Untuk harga tidak terlalu mahal, namun sajiannya cukup berkualitas dan mementingkan rasa


Februari 4, 2010

Larisnya Soto Daging Pak Keman
HANYA TIGA JAM SUDAH HABIS

KLIK - Detail Banyak orang jualan soto dengan cita rasa yang berbeda-beda. Nah, soto daging Serengan ini memiliki rasa yang khas. Cara memasaknya di kuali dengan kayu bakar. Hebatnya, hanya dalam waktu singkat langsung ludes.

Suatu malam di Jln. Veteran, Serengan, Solo (Jateng), tampak sebuah warung soto disesaki pembeli. Sepuluh kursi panjang dan delapan kursi plastik sudah penuh terisi orang yang makan dengan nikmat. Kendati demikian, masih banyak pelanggan rela menunggu sampai pembeli selesai makan. Padahal warung yang terletak sekitar 3 km dari Kraton Solo itu sederhana saja. Sebagian pembeli makan beratapkan tenda plastik dan yang lain cukup beratap langit.

Tampaknya pembeli soto daging di bawah pohon besar itu berasal dari berbagai kalangan. Hal ini terlihat dari kendaraan yang diparkir. Mulai dari sepeda onthel sampai mobil mewah. Para pembeli tak kehilangan selera makan meski debu jalanan kadang terbang ketika ada kendaraan lewat. Apa, sih, keistimewaan cita rasa soto itu? “Soto di sini segar. Enak dimakan selagi masih panas. Bisa menyembuhkan masuk angin, lho” ujar Sugeng Santoso, pelanggan yang sedang makan.

Bisa jadi ungkapan Sugeng ingin menegaskan lezatnya soto yang disantapnya. Apalagi ditemani lauk yang mengundang selera. Di atas meja tersedia paru goreng, daging goreng, hati ayam, kikil sapi, babat, telur pindang yang berwarna cokelat yang mengkilat. Lebih klop lagi, soto dimakan dengan krupuk karak. Sementara itu, sang pemilik warung Keman Kasno Mulyono (57) dan tiga putrinya, sibuk menghidangkan mangkuk-mangkuk soto yang dipesan pembeli. Kadang mereka memotong lauk yang dipesan pembeli.

KLIK - Detail “Saya sudah 30 tahun lebih jualan soto. Sebelumnya saya gonta-ganti pekerjaan. Pernah jual es keliling, kemudian jadi pedagang asongan yang menjajakan koran dan majalah. Karena waktu itu gambarnya porno, saya sering dikejar-kejar polisi,” kenang Keman.

Merasa tak aman, Keman pun berganti pekerjaan menjadi kondektur bus jurusan Solo-Semarang. Ketika menjadi kondektur bus, Keman berkenalan dengan Ngatmi yang jualan dawet di terminal Solo. Setelah kenal selama empat tahun mereka menikah. “Kalau orang dulu, kan, tidak pakai macam-macam. Mau menikah ya langsung saja,” ujar Keman mengenang cerita perkawinannya.

KLIK - DetailSANGGUP BANGUN RUMAH
Sekian tahun berumah tangga, istri tercinta tak setuju Keman meneruskan profesinya. Alasannya, jadi kondektur bus sering pulang malam. Tahun 1970, Keman memilih jualan soto, sekaligus meneruskan profesi ayahnya yang jual soto secara keliling. Ia sering membantu ayahnya jualan setelah putus sekolah. “Saya hanya sampai kelas 5 SR. Orang tua sudah tak mampu membiayai sekolah atau membeli pakaian,” kenang Keman seraya mengatakan, saat itu ibunya menjadi abdi di kraton Solo.

Seperti ayahnya, Keman juga memulai usaha dengan cara berkeliling. Dari rumah kontrakannya, ia memikul angkring sampai Kampung Baluwarti di dekat Kraton Solo. Setiap hari, ia berangkat pukul 07.00 dan sampai di rumah pukul 10.00. “Jika dagangan masih, saya melanjutkan jualan di rumah dibantu istri. Kalau pagi, istri saya sibuk mengurusi anak sekolah.”

Keman berkeliling sampai tahun 1989. Akhirnya Keman memilih tempat jualan di Jln. Veteran. “Saya tak lagi jualan soto pada siang hari. Pengalaman mengajarkan, dagang malam hari lebih banyak pembelinya,” lanjut Keman. Tentu saja bukan hanya karena faktor malam hari soto Keman diminati pembeli. Ia mempunyai resep jitu. Salah satunya, aroma kuah soto terasa lain.

KLIK - Detail Apa resepnya? “Saya memasaknya menggunakan kuali. Sudah gitu, harus pakai kayu bakar. Nah, agar lebih mantap, saya tetap pakai daging sapi. Sebagai pelengkap, saya tambah tauge, seledri, dan tomat,” kata Keman. Resep ini ternyata laris manis.
“Sekarang, tiap malam saya butuh air 1,5 kuali. Satu kuali kira-kira berisi 2,5 ember.”
Begitu larisnya, usaha Keman jauh lebih sukses ketimbang ayahnya. Ia sanggup menabung dan tahun 1990 ia mampu membeli tanah dengan harga Rp 300 ribu per meter di Serengan. Beberapa tahun kemudian, ia sanggup membangun rumah di atas tanah berukuran 6 x 17 meter itu. “Sangat bahagia bisa punya rumah,” lanjut Keman.

Keman membayangkan betapa sulitnya ketika masih kontrak rumah. “Dulu bingung kalau rumah tidak boleh diperpanjang kontraknya. Saya, kan, harus nyari rumah lain. Pokoknya, sekarang sudah tenang. Lebih senang lagi, dari hasil jualan soto, saya bisa menyekolahkan lima anak saya,” jelas Keman bangga.

Sumber : Tabloid Nova



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.