Pertempuran 4 Hari di Kota Solo

Tepatnya bulan Agustus 1949 terjadi “Serangan Oemoem” atau Pertempuran Empat Hari di Kota Solo, sebenarnya pertempuran itu terjadi mulai tanggal 7 Agustus 1949 sampai dengan 11 Agustus 1949, atau lima hari perang terhadap Belanda. Serangan ini merupakan serangan yang ketiga kalinya dilakukan oleh para pejuang kita saat itu. Serangan I dilakukan terhadap Belanda di Kota Solo pada tanggal 8 Pebruari 1949 dan serangan ke II dilakukan pada tanggal 2 Mei 1949.

Pada saat terjadinya pertempuran ini, banyak rakyat yang menjadi korban, dimana pada hari pertama kampung-kampung di pinggiran kota ditembaki Belanda dengan kanon dan mortar. Belanda juga menyerang dari udara dengan 4 pesawat terbang membom kampong Manahan dan Laweyan. Pada hari kedua, dengan 4 pesawat membom kampung Kandangsapi dan kampung Serengan dibombardir Belanda secara membabi buta, bahkan rumah-rumah yang berdekatan dengan markas Belanda banyak yang dibakar. Menurut salah satu pelaku dari peristiwa itu menyatakan suasananya pada saat itu sangat mencekam karena banyak isak tangis disana-sini. Namun menurut mereka, serangan ini sangat berhasil, hal ini dibuktikan bahwa seluruh daerah kota talah berhasil dikuasai oleh para pejuang.

“Gugur Satu Tumbuh Seribu”. Demikian semboyan para pelaku sejarah waktu itu. Meskipun banyak rekan yang gugur, semangat juangnya tidak pernah luntur untuk mengusir Belanda dari muka bumi Indonesia, khususnya yang ada di Kota Solo.

Akhir pertempuran

Pada tanggal 11 Agustus 1949 terjadi perundingan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Pihak Belanda diwakili oleh Letkol Van Ohl dan pihak Indonesia diwakili oleh Letkol Slamet Riyadi. Adapun isi berjanjiannya adalah sebagai berikut : 1). Untuk mengurangi terjadinya perselisihan, pihak Belanda meminta agar TNI ditarik mundur ke tepi batas kota dan rintangan-rintangan jalan disingkirkan. 2). Pihak Belanda berjanji teror Belanda tak akan berulang dan tak akan diadakan pembalasan terhadap rakyat yang membantu TNI.