Larisnya Soto Daging Pak Keman
HANYA TIGA JAM SUDAH HABIS

KLIK - Detail Banyak orang jualan soto dengan cita rasa yang berbeda-beda. Nah, soto daging Serengan ini memiliki rasa yang khas. Cara memasaknya di kuali dengan kayu bakar. Hebatnya, hanya dalam waktu singkat langsung ludes.

Suatu malam di Jln. Veteran, Serengan, Solo (Jateng), tampak sebuah warung soto disesaki pembeli. Sepuluh kursi panjang dan delapan kursi plastik sudah penuh terisi orang yang makan dengan nikmat. Kendati demikian, masih banyak pelanggan rela menunggu sampai pembeli selesai makan. Padahal warung yang terletak sekitar 3 km dari Kraton Solo itu sederhana saja. Sebagian pembeli makan beratapkan tenda plastik dan yang lain cukup beratap langit.

Tampaknya pembeli soto daging di bawah pohon besar itu berasal dari berbagai kalangan. Hal ini terlihat dari kendaraan yang diparkir. Mulai dari sepeda onthel sampai mobil mewah. Para pembeli tak kehilangan selera makan meski debu jalanan kadang terbang ketika ada kendaraan lewat. Apa, sih, keistimewaan cita rasa soto itu? “Soto di sini segar. Enak dimakan selagi masih panas. Bisa menyembuhkan masuk angin, lho” ujar Sugeng Santoso, pelanggan yang sedang makan.

Bisa jadi ungkapan Sugeng ingin menegaskan lezatnya soto yang disantapnya. Apalagi ditemani lauk yang mengundang selera. Di atas meja tersedia paru goreng, daging goreng, hati ayam, kikil sapi, babat, telur pindang yang berwarna cokelat yang mengkilat. Lebih klop lagi, soto dimakan dengan krupuk karak. Sementara itu, sang pemilik warung Keman Kasno Mulyono (57) dan tiga putrinya, sibuk menghidangkan mangkuk-mangkuk soto yang dipesan pembeli. Kadang mereka memotong lauk yang dipesan pembeli.

KLIK - Detail “Saya sudah 30 tahun lebih jualan soto. Sebelumnya saya gonta-ganti pekerjaan. Pernah jual es keliling, kemudian jadi pedagang asongan yang menjajakan koran dan majalah. Karena waktu itu gambarnya porno, saya sering dikejar-kejar polisi,” kenang Keman.

Merasa tak aman, Keman pun berganti pekerjaan menjadi kondektur bus jurusan Solo-Semarang. Ketika menjadi kondektur bus, Keman berkenalan dengan Ngatmi yang jualan dawet di terminal Solo. Setelah kenal selama empat tahun mereka menikah. “Kalau orang dulu, kan, tidak pakai macam-macam. Mau menikah ya langsung saja,” ujar Keman mengenang cerita perkawinannya.

KLIK - DetailSANGGUP BANGUN RUMAH
Sekian tahun berumah tangga, istri tercinta tak setuju Keman meneruskan profesinya. Alasannya, jadi kondektur bus sering pulang malam. Tahun 1970, Keman memilih jualan soto, sekaligus meneruskan profesi ayahnya yang jual soto secara keliling. Ia sering membantu ayahnya jualan setelah putus sekolah. “Saya hanya sampai kelas 5 SR. Orang tua sudah tak mampu membiayai sekolah atau membeli pakaian,” kenang Keman seraya mengatakan, saat itu ibunya menjadi abdi di kraton Solo.

Seperti ayahnya, Keman juga memulai usaha dengan cara berkeliling. Dari rumah kontrakannya, ia memikul angkring sampai Kampung Baluwarti di dekat Kraton Solo. Setiap hari, ia berangkat pukul 07.00 dan sampai di rumah pukul 10.00. “Jika dagangan masih, saya melanjutkan jualan di rumah dibantu istri. Kalau pagi, istri saya sibuk mengurusi anak sekolah.”

Keman berkeliling sampai tahun 1989. Akhirnya Keman memilih tempat jualan di Jln. Veteran. “Saya tak lagi jualan soto pada siang hari. Pengalaman mengajarkan, dagang malam hari lebih banyak pembelinya,” lanjut Keman. Tentu saja bukan hanya karena faktor malam hari soto Keman diminati pembeli. Ia mempunyai resep jitu. Salah satunya, aroma kuah soto terasa lain.

KLIK - Detail Apa resepnya? “Saya memasaknya menggunakan kuali. Sudah gitu, harus pakai kayu bakar. Nah, agar lebih mantap, saya tetap pakai daging sapi. Sebagai pelengkap, saya tambah tauge, seledri, dan tomat,” kata Keman. Resep ini ternyata laris manis.
“Sekarang, tiap malam saya butuh air 1,5 kuali. Satu kuali kira-kira berisi 2,5 ember.”
Begitu larisnya, usaha Keman jauh lebih sukses ketimbang ayahnya. Ia sanggup menabung dan tahun 1990 ia mampu membeli tanah dengan harga Rp 300 ribu per meter di Serengan. Beberapa tahun kemudian, ia sanggup membangun rumah di atas tanah berukuran 6 x 17 meter itu. “Sangat bahagia bisa punya rumah,” lanjut Keman.

Keman membayangkan betapa sulitnya ketika masih kontrak rumah. “Dulu bingung kalau rumah tidak boleh diperpanjang kontraknya. Saya, kan, harus nyari rumah lain. Pokoknya, sekarang sudah tenang. Lebih senang lagi, dari hasil jualan soto, saya bisa menyekolahkan lima anak saya,” jelas Keman bangga.

Sumber : Tabloid Nova