Hujan yang mengguyur Serengan seharian, tak menyurutkan semangat panitia dalam menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Warga sangat antusias menyaksikan kesenian tradisional yang disuguhkan oleh Sanggar Pedalangan Serengan.Mulai orang dewasa, anak-anak, perempuan dan laki-laki memenuhi Balai Sekar Gumilar Serengan, gedung yang baru selesai dibangun tersebut.
Lampu yang menerangi beber menjadi pusat perhatian warga yang datang menyaksikan kesenian dari kulit kerbau tersebut. Irama gamelan cukup menghangatkan malam yang dingin tersebut.
Tak hanya Balai Sekar Gumilar saja yang menjadi tempat nongkrong warga Serengan dan sekitarnya, tetapi lapak-lapak yang berjajar di depan kelurahan, juga tak luput dari perhatian masyarakat. Udara yang dingin membuat mereka ingin terus ngemil, dan inilah yang dimanfaatkan pedagang untuk meraup rezeki.
Ketua Sanggar Pedalangan Serengan Joko Setyo Budi Wibowo mengungkapkan, dalam pagelaran ini, sanggar mengerahkan sekitar 50 seniman. “Dalam pagelaran ini, kami melibatkan sekitar 50 seniman dan dua dalang. Kedua dalang tersebut adalah Ki Satimin dan Ki Kasiman. Dalam kesempatan ini, kami mengambil lakon Sesaji Rojo Suyo, yang secara garis besar mengisahkan acara ruwatan yang dilakukan oleh raja Amartha. Ruwatan itu digelar untuk meminta keselamatan kepada Yang Maha Kuasa,” ujar Joko kepada wartawan, Sabtu (16/1) malam.
Menurut Joko, acara seperti ini diharapkan bisa dilaksanakan per 35 hari sekali, atau sering disebut selapan. “Ini diselenggarakan sebagai peringatan malam Minggu Kliwon. Namun, kali ini pagelaran wayang kulit ini bertepatan juga dengan tutup bulan Sura, sekaligus sebagai perayaan selesainya pembangunan balai ini. Ini memang acara spesial,” imbuhnya.
Kedua dalang berhasil menyuguhkan alur cerita yang cukup membuat penonton terpukau. Semakin malam mejelang dini hari, tak semakin sepi, tetapi semakin banyak warga yang menyaksikannya.
Para sinden pun tak mau ketinggalan. Tak hanya suaranya yang merdu, tapi keelokan rupa dan keanggunan para penyanyi tembang Jawa itu menjadi daya tarik tersendiri bagi yang menyaksikan.
Warga makin larut dan asyik menikmati permainan dalang. Tak terkecuali bagi Lurah Serengan, Suprapto. “Ini sebuah tradisi yang kami coba lestarikan. Mungkin di daerah lain sudah tidak ada, tapi di sini kami tetap lestarikan. Apalagi ketika masyarakat memiliki potensi seperti ini. Harus selalu didukung, sehingga kesenian ini dapat diperkenalkan kepada generasi muda,” ungkap Suprapto.
Tak terasa, cerita yang dikisahkan dalam dari pukul 21.00 WIB tersebut berakhir pukul 03.30 WIB. Senyum yang menghiasi bibir para panitia, menggambarkan bahwa acara tersebut telah berjalan dengan lancar. “Semoga acara mendatang bisa sesukses ini, atau bahkan lebih sukses,” inilah yang menjadi harapan dari para panitia pagelaran wayang kulit di Serengan.

Sumber : Harian JogloSemar

ditulis : Murniati