Tag

Kotamadya Surakarta juga disebut kota Solo. Dari kota ini, komponis Gesang menggubah lagu keroncong yang terkenal, “Bengawan Solo”. Menurut beberapa orang tua, kota ini didirikan Sunan Paku Buwono II setelah kerajaan Kartasura hancur beran­takan akibat perang. Oleh karena itu, Sunan ber­kenan membangun keraton baru yang letaknya di sebelah timur Kartasura. Untuk itu, diutuslah beberapa orang punggawa untuk melihat-lihat dan mengamati wilayah mana yang cocok. Setelah peng­amatan dilakukan, diusulkan kepada Sunan bahwa tempat yang tepat adalah desa Solo, sebuah desa yang dihuni oleh Ki Gede Solo III,

Gagasan ini tidak sepenuhnya diterima oleh be­berapa bangsawan dan punggawa keraton. Alasan mereka bahwa pembangunan keraton akan men­desak tempat tinggal penduduk desa. Jika gagasan itu tetap dilaksanakan, penduduk harus dipindahkan. Untuk itu, diperlukan uang cukup banyak guna mem­bayar ganti rugi. Ada pula yang mengusulkan agar wilayah itu dibeli saja oleh Sunan. Dengan demikian, tidak menimbulkan akibat yang dirasa kurang adil.

Rapat akhirnya memutuskan, wilayah yang dihuni Ki Gede Solo III dibeli. Dengan ganti rugi lebih dari cukup, penduduk diminta pindah ke tempat yang lebih lega.

Meskipun demikian, masih banyak penduduk desa yang bersungut-sungut. Hal ini dapat dimaklumi sebab berpindah tempat tinggal tidak mudah dan merepotkan. Apalagi perpindahan itu harus diikuti dengan membuka hutan, menciptakan hunian baru, dan membangun rumah. Oleh karena itu, ada pen­duduk yang ingin bertahan dan tidak bersedia pindah.

Cara mereka bertahan adalah dengan mengubah-­ubah janji. Misalnya, mereka memohon tambahan uang. Begitu permintaan dipenuhi, mereka tetap tidak mau pindah. Ada pula yang memohon agar disedia­kan balok-balok kayu sebagai bahan bangunan. Ke­tika balok diberikan, mereka menolak menerimanya karena, ternyata mereka tidak memiliki alat-alat pem­belah. Oleh karena itu, beberapa punggawa kesal. Mereka berteriak bahwa mereka itu ibarat air di atas daun lumbu (daun talas). Sejak itu, wilayah itu di­sebut Kedung Lumbu; letaknya di sebelah utara Keraton Surakarta.

Kesulitan itu dapat diatasi setelah Sunan Paku Buwono II mengunjungi tempat itu. Sunan meng­hadiahkan sejumlah tambahan uang kepada pen­duduk. Sunan juga berjanji, jika keraton berhasil di­bangun dengan selamat, beberapa penduduk yang bersedia dapat diangkat menjadi abdi dalem (pegawai keraton).

Untuk membangun keraton diperlukan banyak sa­rana. Salah satu yang penting adalah bagaimana menghindarkan keraton dari bahaya banjir.

Mengapa demikian? Solo boleh dikatakan dikelilingi Bengawan Solo yang nengalir jauh dan bermuara di Jawa Timur. Air bengawan itu, pada setiap musim penghujan, meluap hampir ke seluruh wilayah desa. Oleh karena itu, keraton memerlukan siti hinggil (tanah tinggi) untuk bagian depan keraton, biasanya disebut pendapa. Tanah itu diambil dari wilayah di sebelah barat keraton.

Konon, pengambilan tanah itu tidak berjalan de­ngan mudah. Beberapa pekerja jatuh sakit. Menurut beberapa orang tua, wilayah yang diambil tanahnya itu disebut wingit (banyak dihuni makhluk halus). Walaupun tampaknya hanya pepohonan belaka, bagi makhluk-makhluk halus wilayah itu sebenarnya keraton juga. Orang tua yang memiliki kesaktian dapat melihat indahnya keraton makhluk halus itu. Tidak mengherankan jika pekerja-pekerja yang diberi tugas mengambil tanah di wilayah itu jatuh sakit. Para tetua menganjurkan agar diadakan upacara menariam kepala kerbau dan uang sejumlah empat ratus dinar (uang di wilayah itu) sebagai tanda per­mohonan izin dan ganti rugi pengambilan tanah. Selesai upacara, suasana di wilayah itu terasa teduh. Para pekerja merasa seakan-akan tinggal di dalam keraton yang tenteram. Mulai saat itu, wilayah itu disebut Kratonan.

Usaha meninggikan tanah untuk menanggulangi banjir terus dilakukan, antara lain di sebuah desa di sebelah barat yang kemudian disebut Kratonan itu. Desa ini juga dipilih karena tanahnya berbau wangi. Semakin digali, bau harum semerbak menyebar ke segala penjuru. Beberapa pekerja kagum karenanya dan berteriak bahwa inilah desa Talawangi. Akan tetapi, nama itu tidak lama dipertahankan. Sesudah keraton selesai dibangun dan desa Solo berubah menjadi kota, nama Talawangi diganti Kadipala sampai sekarang. Penggantian nama itu tidak jelas alasannya.